Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 97-100

Dalam Dialog 97, Syeikh al-Bisyri meminta dituturkan kejadian-kejadian lain (mengenai ketidak-patuhan para sahabat, peny.) supaya pengetahuan beliau bertambah dalam soal ini Maka dalam Dialog 98, al-Musawi memenuhi, permintaan itu. Akan tetapi kali ini, al-Musawi mencukupkan diri dengan mengemukakan beberapa peristiwa yang terjadi dalam sejarah Nabi, dan sejumlah hukum-hukum yang menjadi perselisihan antara kaum Rafidhah dan Ahlus Sunnah wal-Jama'ah. Al-Musawi menganggap pendapat kaum Rafidhah adalah pendapat yang benar sebagaimana yang dipegangi oleh Nabi, sedang madzhab Ahlus Sunnah dipandangnya keluar dari sunnah Nabi, dan mengikuti pendapat Abu Bakar dan 'Umar.

Sesungguhnya persoalan-persoalan ini telah terkenal di dalam kitab-kitab hadits, dan para ahli hadits telah menerangkan dan menjelaskannya. Mereka telah mengupas masalah-masalah tersebut dan memisahkannya dari hal-hal yang meragukan, sehingga persoalannya menjadi terang benderang bagi orang yang ingin mengetahuinya. Barangsiapa yang ingin mengetahuinya, hendaklah membacanya dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab yang muktabarh di bidang fiqh (hukum Islam), sebab akan terlalu panjang jika dikemukakan di sini.

Pada akhir Dialog 98, al-Musawi menuduh Abu Bakar dan 'Umar tidak hanya meninggalkan nash-nash tentang khilafah, tetapi juga tidak memegang teguh dan mengamalkan semua nash yang berkenaan dengan 'Ali dan Keluarga Suci Nabi.

Dan al-Musawi melangkah makin jauh lagi, ketika ia berdusta bahwa para sahabat telah melakukan hal-hal bertentangan dengan nash-nash itu. Dan pada Dialog 99, Syeikh al-Bisyri tetap berprasangka baik kepada Abu Bakar dan 'Umar dari segala hal yang dituduhkan al-Musawi sebelumnya. Kemudian Syeikh al-Bisyri meminta al-Musawi menuturkan nash-nash yang sudah diisyaratkan pada dialog sebelumnya.

Dan dalam Dialog 100, semakin terlihat kejahatan al-Musawi ketika ia menolak sikap Syeikh al-Bisyri yang tetap berprasangka baik kepada Abu Bakar dan 'Umar meskipun beliau percaya dan menerima segala yang dikemukakan al-Musawi. Al-Musawi memandang pernyataan Syeikh al-Bisyri sebagai keluar dari objek pembicaraan. Kemudian al-Musawi memenuhi permintaan Syeikh al-Bisyri dengan menuturkan nash-nash yang beliau minta pada dialog sebelumnya (99).

Di sini al-Musawi mulai dengan menyebutkan sejumlah kebohongan yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits atau kitab-kitab muktabar menurut para ulama yang perkataan dan riwayatnya dapat dijadikan pegangan dan hujjah. Al-Musawi --semoga Allah membinasakannya-- berkata: "Anda tentu mengetahui bahwa banyak diantara para sahabat yang membenci 'Ali dan memusuhinya: Mereka memencilkannya, mengganggu, mencaci dan bertindak zalim terhadapnya, melawan dan memeranginya, serta menghunus pedang di depan wajahnya dan wajah Ahlu-Bait-nya serta pendukung-pendukungnya, semata-mata karena menuruti hawa nafsu dan kepentingan pribadi mereka, dan menentang nash-nash yang berkenaan, dengan keutamaan Ahlul-Bait dan perintah untuk mematuhi dan tidak mendurhakai mereka".

Selanjutnya al-Musawi mengemukakan sejumlah hadits maudhu' dan dha'if. Kami telah menjelaskan keadaan hadits-hadits tersebut dalam tanggapan terhadap dialog-dialog yang terdahulu.

Mengenai hadits Ghadir Khumm yang disebut berulang-ulang oleh al-Musawi, maka lafazhnya di dalam kitab Sahih Muslim dari Zaid ibn Arqam adalah sebagai berikut: "Rasulullah saw berpidato di hadapan kami di Ghadir Khumm. Beliau berkata: "Aku tinggalkan untukmu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya, kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah." Mengenai kata kata wa-'ithrati, kata-kata ini terdapat dalam riwayat Tirmidzi. Kata-kata ini hanya diriwayatkan oleh Zaid ibn Hasan al-Anmathi saja dari Ja'far ibn Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir. Sedang al-Anmathi menurut Abu Hatim, haditsnya mungkar. Lihat biografinya dalam kitab Mizan karya adz-Dzahabi.

Adapun hadits Perahu Nuh, adalah hadits yang tidak sahih (al-Muntaqa, hal. 471). Demikian pula hadits "Aku adalah musuh orang yang memusuhimu", adalah hadits maudhu' yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang dikenal. Juga tidak diriwayatkan melalui isnad yang dikenal pula (al-Muntaqa, hal. 274). Demikian pula hadits "Bintang-bintang itu merupakan petunjuk keselamatan bagi penduduk dunia", hadits ini maudhu', tidak ada dasarnya sama sekali.

Mengenai kutukan, sesungguhnya hal itu datang dari kedua belah pihak. Masing-masing kelompok melaknat pemuka-pemuka kelompok lainnya. Dan peperangan yang terjadi antara kedua pihak, sungguh lebih berat dan lebih besar daripada saling melaknat tersebut.

Dan yang mengherankan ialah bahwa kaum Rafidhah menolak kecaman terhadap 'Ali, tapi membolehkan diri mereka sendiri melontarkan kecaman terhadap Abu Bakar dan 'Umar, dan memberi keduanya julukan jibt dan Thaghut. Mereka juga membolehkan mengutuk 'Utsman dan Mu'awiyah, bahkan mengkafirkan mereka. Padahal Mu'awiyah dan pendukung-pendukungnya tidak mengkafirkan 'Ali, walaupun mengecamnya. Yang mengkafirkan 'Ali adalah kaum Khawarij, yang keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya.

 

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M