Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 83-84

Dalam Dialog 83, Syeikh al-Bisyri meminta kepada al-Musawi agar mengkompromikan dua hal yang berkontradiksi menurutnya, yaitu tetapnya nash yang menerangkan keimaman 'Ali langsung setelah wafat Nabi dan tindakan para sahabat yang tidak mengikuti nash tersebut. Permintaan ini dilakukan dengan cara seperti permintaan seorang murid yang baik kepada gurunya yang terhormat. Seakan-akan Syeikh al-Bisyri telah meyakini tetapnya nash mengenai keimaman 'Ali itu, dan memandangnya sebagai kebenaran yang tidak diperselisihkan lagi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Tidak ada riwayat yang telah tetap dari Nabi saw bahwa beliau dengan tegas dan terang menyatakan kekhalifahan salah seorang dari sahabat-sahabatnya, baik 'Ali, 'Abbas ataupun Abu Bakar.

Jabatan khalifah tidak bisa ditetapkan bagi seorang khalifah kecuali dengan bai'at dan hasil pemilihan yang dilakukan oleh Ahlul-halli wal 'Aqdi. Ummat Islam telah sepakat mengenai hak khilafah Abu Bakar setelah wafat Nabi, karena mereka mengetahui keutamaan Abu Bakar dan tingginya kedudukan Abu Bakar yang tidak seorang pun bisa menyamainya. Juga karena jatuhnya pilihan Nabi kepada Abu Bakar untuk menjadi imam shalat ketika beliau sakit yang membawa wafatnya itu, Para sahabat berkata: "Rasulullah saw telah berkenan memilih Abu Bakar untuk urusan agama kita. Mengapa kita tidak rela memilih dia untuk urusan dunia kita"?

Dalil yang paling jelas mengenai tidak adanya nash tersebut adalah pidato yang disampaikan 'Ali di mimbar Nabi pada hari kedua kekhalifahannya, bertepatan dengan hari Jum'at, 25 Dzulhijah tahun 35 Hijriyah. Adalah ath-Thabari yang berhasil mengumpulkan teks pidato 'Ali tersebut dalam bukunya, jilid 1, hal. 3077 dan jilid 6 hal. 157. Disebutkan bahwa 'Ali berkata: "Saudara-saudara, sesungguhnya ini adalah urusan anda semua. Tak seorang pun yang mendapatkan, hak didalamnya, kecuali orang yang kalian angkat sebagai pemimpin. Kemarin kita telah berselisih mengenai soal ini (maksudnya bai'at kepada 'Ali). Maka jika kalian menghendaki, aku akan menjadi pemimpinmu. Dan jika tidak, aku tidak akan memaksa." Dengan ini, 'Ali menyatakan bahwa ia tidak meminta dukungan bagi kekhalifahannya berdasarkan sesuatu yang lampau (wasiat Nabi), tetapi ia meminta dukungan dengan bai'at ummat yang dilakukan ummat secara sukarela.

Dalam Dialog 84, maka guru yang agung --dalam hal dusta dan mengada-ada-- ini memenuhi permintaan sang murid untuk mengkompromikan dua hal yang bertolak belakangan. Hal ini dilakukannya dengan menunjukkan kepada kita berbagai tuduhan terhadap para sahabat, terutama Khulafa'ur-Rasyidin yang tiga, yaitu Abu Bakar, 'Umar, dan 'Utsman. Tuduhan-tuduhan tersebut dapat dirangkum seperti berikut ini:

  1. Mereka (para sahabat) membeda-bedakan nash-nash syara' dan membaginya atas dua bagian. Pertama, nash-nash yang berhubungan dengan persoalan keagamaan dan kehidupan (sehari-hari). Nash-nash jenis ini mereka terima dan amalkan. Kedua, nash-nash yang berhubungan dengan persoalan politik dan kekuasaan pemerintahan. Mereka tidak tunduk pada nash-nash ini dan tidak pula memeganginya. Karena itu, mereka tidak menerima nash yang menetapkan keimaman 'Ali, karena nash itu tergolong jenis politik.
  2. Mereka tidak tunduk dan patuh pada nash-nash yang berhubungan dengan persoalan politik dan pemerintahan, kecuali oleh paksaan kekuatan. Maka ketika kekuatan yang bisa memaksa mereka, mereka itu tidak untuk mengamalkan nash mengenai keimaman 'Ali itu tidak ada, maka mereka berpaling dari nash itu.
  3. Mereka menaruh dendam kepada 'Ali karena sikapnya yang keras dalam membela kebenaran, suatu hal yang juga mendorong mereka untuk menggeser 'Ali dari jabatan khalifah, kendatipun ada nash yang menetapkannya.
  4. Mereka iri hati atas anugerah Allah yang dilimpahkan kepada 'Ali ibn Abi Thalib. Ini juga mendorong mereka untuk melakukan tipu daya terhadap 'Ali, dan menjauhkannya dari jabatan khalifah, walaupun itu telah ditetapkan oleh nash.
  5. Ambisi mereka untuk berkuasa dan memerintah mendorong mereka untuk menyanggah nash mengenai keimanan 'Ali, atau mentakwilkannya. Sebab jika mereka tidak berbuat demikian, tidak ada jalan bagi mereka untuk bisa berkuasa, sebab setelah 'Ali, keimaman tersebut akan berada di tangan anak keturunannya yang ma'shum.
  6. Mereka tidak suka kenabian dan khilafah berada di tangan dalam satu keluarga, yaitu Bani Hasyim. Ini juga merupakan pendorong bagi mereka untuk menggeser khilafah dari Bani Hasyim dan menetapkannya bagi rumpun keluarga yang lain.

Untuk menolak tuduhan-tuduhan ini, kita tidak perlu berbicara panjang. lebar. Sebab semua tuduhan itu palsu dan tidak berdasar sama sekali di mata para ahli. Juga tidak terdapat dalam kitab yang muktabar menurut penilaian para ulama. Semua itu merupakan tuduhan yang dibuat-buat oleh al-Musawi, didorong oleh keyakinannya yang buruk terhadap sahabat-sahabat nabi. Padahal mereka dinyatakan oleh al-Qur'an dan Sunnah sebagai orang-orang yang penuh keimanan dan kebajikan.

Seandainya apa yang dituduhkan al-Musawi itu benar adanya, hal itu justru akan semakin mengkritik 'Ali. Sebab bagaimana bisa ia melihat semua itu terjadi pada saudara-saudaranya para sahabat, dan ia tidak mencegah dari mereka satu sifat pun dari sifat-sifat yang buruk itu, yang berlawanan dengan keimanan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya? Bagaimana bisa 'Ali melihat mereka melakukan tipu daya untuk melepaskan diri dari kepemimpinan 'Ali dan menegasikan nash yang menetapkan kekhalifahan itu baginya, dan ia tidak mengingatkan mereka dengan peringatan yang keras? Bahkan bagaimana ia bisa membai'at Abu Bakar, padahal ia (Abu Bakar) menentang nash dan menegasikannya? Dan bagaimana ia bisa menafikan pesan nabi mengenai imamah, sedang ia berada di Kufah dan mempunyai kekuatan di tempat itu?

Semua pertanyaan di atas, mengungkapkan kepalsuan dan kedustaan al-Musawi serta kontradiksi pemikirannya. Coba anda pikirkan, pasti anda melihatnya dengan jelas.

 

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M