Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Komentar atas Dialog 69

Perhatikanlah komentar al-Musawi atas hadits-hadits sahih yang dikemukakan Syeikh al-Bisyri dari Kitab Sahih Bukhari dan Muslim. Juga komentarnya terhadap hadits-hadits yang menafikan wasiat nabi kepada 'Ali ataupun sahabat lainnya.

Kalau anda perhatikan komentar itu, anda akan menemukan keanehan pemikiran al-Musawi. Ia memahami hadits-hadits yang menegaskan wasiat itu, justru sebagai dalil adanya wasiat. Ia berkata: "Anda lihat bahwa kedua Syeikh itu (Bukhari-Muslim) dalam hadits ini secara tidak sengaja telah meriwayatkan wasiat nabi kepada 'Ali". Pemahaman al-Musawi ini patut ditertawakan oleh orang yang berakal. Sebab mana bisa negasi diartikan penegasan (itsbat), dan yang hak dijadikan dalil bagi yang bathil.

Dalam komentarnya itu, al-Musawi juga telah bersikap tidak sopan dan sombong terhadap para sahabat dan tabi'in umumnya, dan Ummul Mu'minin 'A'isyah khususnya ketika ia berkata: "Orang-orang yang menyebutkan tentang adanya wasiat nabi kepada 'Ali itu, bukanlah orang-orang dari kalangan luar ummat. Tetapi mereka dari kalangan para sahabat dan tabi'in sendiri, yang memiliki keberanian untuk berterus terang kepada A'isyah dengan mengajukan pertanyaan yang menyinggung perasaannya, dan tentunya juga yang bertentangan dengan politik penguasa di masa itu".

Al-Musawi menganggap Abu Bakar dan 'Umar telah memusuhi Allah dan Rasul-Nya, dan melawan perintah keduanya, dan menentang wasiat mengenai kepemimpinan 'Ali setelah Nabi. Abu Bakar dan 'Umar bersikeras menentang wasiat ini dengan menghalangi masyarakat menyebutkan wasiat itu. Para sahabat tunduk pada keduanya, lantaran mereka takut atau turut pada kemauan Abu Bakar dan 'Umar. Maka mereka pun mengingkari hadits-hadits wasiat. Diantara mereka adalah 'A'isyah Ummul Mu'minin. Menurut pandangan al-Musawi dan kaumnya, mereka semua telah keluar dari ummat Islam. Adapun orang-orang yang mengakui adanya hadits-hadits wasiat, maka hanya merekalah yang mempunyai keberanian untuk mengungkap fakta kepada 'A'isyah dengan mengajukan pertanyaan yang menyinggung perasaannya, dan yang tentunya juga bertentangan dengan politik penguasa masa itu; demikian menurut keterangan al-Musawi. Mereka itulah ummat Islam dalam pandangannya. Tetapi dia tidak menyebutkan nama-nama sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits-hadits wasiat itu.

Sesungguhnya 'bingung' (al-Irtibak) adalah suatu ungkapan atau perkataan untuk kondisi yang datang atas manusia secara mendadak (tidak wajar), ketika ia sedang kaget karena ada sesuatu yang tidak dapat dihadapinya, baik karena bodoh, takut dan lain sebagainya. Sifat seperti ini dinisbatkan al-Musawi kepada 'A'isyah. Ia berkata: "Karena itulah, 'A'isyah menjadi bingung dan terkejut ketika mendengar ucapan-ucapan mereka, yang dapat kita ketahui jawabannya yang begitu lemah dan rapuh". Saya tidak tahu dari mana al-Musawi menyimpulkan 'kebingungan' 'A'isyah ini? Dan siapa sahabat-sahabat yang menceritakan kepada 'A'isyah mengenai hadits-hadits wasiat itu?

Kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa kaum Syi'ah menuturkan hadits-hadits palsu mengenai wasiat Nabi kepada 'Ali. Lalu 'A'isyah menolaknya, karena ia tahu kebohongan hadits-hadits itu, mengingat bahwa Nabi sakit di rumah 'A'isyah, lalu beliau meninggal di pangkuannya. Dan beliau tidak mendengar adanya wasiat nabi kepada seorangpun. Apakah dalam hal ini 'A'isyah bingung? Semoga Allah memerangi hawa nafsu, betapa ia telah membuat buta pemiliknya, dan menjerumuskannya ke jurang kehancuran! Coba anda renungkan ini!

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M