Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 67-68

Pada Dialog 67, Syeikh al-Bisyri hanya pasrah dan menerima apa yang dikemukakan al-Musawi dalam dialog sebelumnya. Dan beliau menyebut kaum Ahlus Sunnah --termasuk diri beliau sendiri-- sebagai orang-orang bodoh. Karena itu, ia lalu meminta pelajaran dari al-Musawi. Seakan-akan beliau seorang murid yang masih ingusan di depan seorang Guru Besar. Coba anda renungkan ini!

Dan pada dialog 68, al-Musawi membeberkan pengetahuannya kepada si murid ingusan tadi, dan menjelaskan tentang hadits wasiat. Sebelumnya, ia sudah menyatakan bahwa hadits-hadits itu mutawatir: Pernyataan al-Musawi ini tidak dapat dipercaya. Sebab kaum Rafidhah adalah orang-orang yang paling dusta dan paling tidak tahu tentang riwayat dan sanad. Menurut mereka, ukuran kesahihan suatu riwayat adalah kesesuaiannya dengan madzhab mereka. Isnad tidak penting bagi mereka, bahkan mereka termasuk orang yang paling tidak mengerti tentang isnad. Untuk itu, kami akan mengemukakan hadits-hadits tersebut, dan menjelaskan tanggapan para ulama terhadapnya.

1. Hadits "Inilah ('Ali) saudaraku, penerima wasiatku, dan penggantiku bagimu. Dengarlah dan patuhilah dia". Pembicaraan mengenai hadits ini sudah dikemukakan pada tanggapan atas Dialog 20. Dari pelbagai pendapat ulama, diperoleh keterangan bahwa hadits ini maudhu'. Baca kembali keterangan mengenai hal ini pada tanggapan tersebut.

2. Hadits dari Buraidah, "Tiap-tiap nabi mempunyai washi dan pewaris, dan washi dan pewarisku adalah 'Ali ibn Abi Thalib". Adapun hadits yang dikemukakan dan dinyatakan sahih oleh al-Musawi ini, dengan menolak pernyataan adz-Dzahabi yang mendustakannya, adalah hadits dha'if disebabkan adanya Muhammad ibn Humaid ar-Razi.

Mengemukakan biografi Syarik ibn 'Abdillah an-Nakha'i, adz-Dzahabi menyatakan dalam Al-Mizan: Muhammad ibn Humaid ar-Razi --yang bukan orang tsiqat-- menceritakan dari Salamah al-Abrasy dari Ibn Ishak dari Syarik dari Abi Rabi'ah al-Iyadi dari ayahnya secara marfu': "Setiap nabi mempunyai seorang washi dan pewaris, dan 'Ali adalah washi dan pewarisku." Kemudian adz-Dzahabi berkata: "Hadits ini dusta, dan Syarik mengakuinya.

Kalau kita simak biografi Muhammad ibn Humaid ar-Razi yang dipandang tsiqat oleh al-Musawi, kita akan menemukan dia dha'if menurut para ahli jarh wat ta'dil.

Dalam Mizan al-I'tidal, 4/530, adz-Dzahabi mendha'ifkan Muhammad ibn Humaid ar-Razi. Menurut Ya'qub ibn Syaibah, ia banyak meriwayatkan hadits mungkar. Menurut Bukhari, dia bisa dipertimbangkan. Abu Zara'ah memandangnya dha'if. Fadhlak ar-Razi berkata: Aku menyimpan 50.000 hadits dari Ibn Humaid, tapi aku tidak meriwayatkan satu hadits pun darinya. Pernah aku masuk ke rumahnya, dan kutemui dia sedang menyusun rangkaian sanad pada matan hadits. Kusaj berkata: "Aku bersaksi bahwa dia pendusta". Shalih Jazarah berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih berani kepada Allah daripadanya". Ia mengutip hadits orang lain, lalu ia mengubahnya. Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih dusta daripadanya. Ibn Hirasy berkata: "Ibn Humaid bercerita kepadaku dan demi Allah, sesungguhnya ia adalah pendusta". Diceritakan dari lebih dari satu orang bahwa Ibn Humaid mencuri hadits. Menurut an-Nasa'i, ia tidak tsiqat. Abu 'Ali an-Naisaburi berkata: Aku berkata kepada Ibn Khuzaimah: Kalau aku mengambil isnad dari Ibn Humaid, itu karena Ahmad telah memujinya. Berkata Ibn Khuzaimah: Ahmad tidak mengenal Ibn Humaid! Seandainya ia mengenalnya seperti kami mengenalnya, pasti ia tidak akan memujinya sama sekali!

Kalau para ahli hadits telah mendha'ifkan Muhammad ibn Humaid, bagaimana ia dapat disebut tsiqat? Dan bagaimana riwayatnya dapat dipandang sahih? Kalaupun kita menerima pendapat Ibn Ma'in yang memandangnya tsiqat, maka pendapat orang-orang yang mencelanya jauh lebih tepat untuk dijadikan pegangan, karena pengetahuan dan jumlah mereka jauh lebih besar. Dalam keadaan demikian, al-Musawi masih memandang sahih riwayatnya, bahkan mutawatir. Ini karena riwayat itu sesuai dengan pendapat dan madzhabnya. Jika anda memperhatikan, pasti anda menemukan kenyataan ini.

3. Adapun hadits Salman al-Farisi "Sesungguhnya washiku, pemegang rahasiaku, yang paling utama diantara orang-orang yang aku tinggalkan setelahku Ibn al-Jauzi telah menuturkan hadits ini melalui 4 saluran, lalu ia berkata: "Hadits ini tidak sahih".

Pada saluran pertama, terdapat Isma'il ibn Ziyad. Ibn Hibban berkata: "Tidak dibenarkan menyebut Isma'il dalam kitab, kecuali dengan mengecamnya." Menurut ad-Dar al-Quthni, ia matruk. 'Abdul Ghani ibn Sa'id al-Hafidz berkata: Kebanyakan perawi hadits ini tidak dikenal dan dha'if.

Pada saluran kedua, terdapat Mathar Ibn Maimun. Bukhari berkata: Haditsnya mungkar. Menurut Abu Al-Fath al-Azdari, haditsnya matruk. Dalam saluran ini juga terdapat Ja'far, dan para ahli masih memperdebatkan dia.

Pada saluran ketiga, terdapat Khalid ibn Ubaid. Ibn Hiban berkata: Ia meriwayatkan dari Anas salinan-salinan palsu. Orang tidak dibenarkan menuliskan haditsnya, kecuali atas jalan ta'ajjub.

Pada saluran keempat, terdapat Qais ibn Maina', salah seorang pemuka Syi'ah. Ia tidak dapat dipercaya atas hadits ini. Di dalam kitab Mizan dikemukakan bahwa Qais ibn Mains' meriwayatkan dari Salman al-Farisi hadits "Ali adalah washiku", dan dia (Qais) adalah pendusta. (Riyadh al-Jannah, hal. 157-158).

5. Hadits Anas, "Hai Anas, orang pertama yang masuk pintu ini adalah imam orang-orang yang takwa Abu Nu'aim meriwayatkan hadits ini dalam kitab al-Hilyah. Dan dalam Al-Mizan ia berkata: "Hadits ini maudhu"'. Telah meriwayatkan hadits ini Jabir ibn Yazid ibn al-Harits al-Ju'fi al-Kufi, salah seorang pemuka Syi'ah.

Di dalam kitab Sahihnya, Imam Muslim berkata: Bercerita Abu Ghussan ibn Muhammad ibn 'Umar ar-Razi; ia berkata: Aku mendengar Jarir berkata: Aku bertemu Jabir al-Ju'fi, tapi aku tidak menuliskan haditsnya. Ia percaya pada raj'ah.

Jarir ibn Abdil Hamid berkata kepada Tsa'labah: Jangan kamu datang kepada Jabir, sebab ia pendusta. Menurut an-Nasa'i, ia matruk. Yahya berkata: Haditsnya tidak dapat ditulis, dan tidak ada nilainya sama sekali. Zaidah berkata: Ia pendusta dan percaya pada raj'ah. Menurut Sufyan, ia percaya pada raj'ah. Al-Humaidi meriwayatkan dari Sufyan demikian: Aku mendengar seseorang bertanya kepada Jabir al-Ju'fi mengenai firman Allah Falan abrahalarda hatta ya'dzana li abi au yahkamallahu li (QS, Yusuf, 12.:80). Jawabnya: Takwilnya belum tiba (datang). Sufyan menyahut: "Dusta". Aku pun bertanya: "Apa yang dikehendaki dengan perkataan Jabir itu"? jawab Sufyan: "Kamu Rafidhah mengatakan bahwa 'Ali berada di langit. Ia tidak akan turun beserta anaknya yang akan turun ke bumi, sampai ada yang memanggil mereka dari langit: "Keluarlah kalian semua bersama si Fulan"! Inilah makna ayat tersebut menurut Jabir, Riwayat Jabir tidak dapat diterima, ia percaya pada raj'ah. Ia dusta seperti saudara-saudara Yusuf as. Zaidah juga berkata: Jabir al-Ju'fi orang Rafidhah; ia memaki-maki sahabat-sahabat Nabi. (Al-Mizan, 1 /379 ).

6. Hadits Abu Ayyub, "Hai Fathimah, tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah memandang kepada penghuni bumi, lalu ia memilih ayahmu diantara mereka sebagai Nabi. Kemudian Dia memandang sekali lagi, dan memilih suamimu…" Hadits ini dha'if, disebabkan adanya 'Ubayah ibn Rab'i; ia Syi'ah ekstrim. (Baca pinggiran kitab Musnad Ahmad, 5/31).

Adz-Dzahabi mengemukakan biografi 'Ubayah ibn Rab'i dalam Al-Mizan sebagai berikut: 'Ubayah ibn Rab'i meriwayatkan dari 'Ali, dan Musa ibn Tharif juga dari 'Ali. Keduanya Syi'ah ekstrim. Ia menerima dari 'Ali hadits berikut: Aku adalah Qasim an-Nar. (al-Mizan, 3/387).

Tidakkah anda lihat, wahai pembaca yang muslim, hadits-hadits yang dikemukakan al-Musawi, yang ia pandang sebagai hadits mutawatir, padahal hadits-hadits itu berkisar antara maudhu' dan dha'if, sebagaimana dinyatakan demikian oleh para ahli hadits. Catatlah ini baik-baik, sebab inilah madzhab al-Musawi, Anda jangan heran!

Sungguh al-Musawi telah berbuat dusta yang besar kepada Allah ketika ia menuduh para sahabat dengan tuduhan nifaq dan hasad. Ia mengutarakan suatu perkataan yang tidak pernah dikemukakan oleh salah seorang pun dari para ahli dalam kitab-kitab. Ia mengatakan tentang mereka: "Mereka mengirim wanita-wanita mereka untuk menemui Pemimpin Wanita se Alam Dunia (Fathimah) untuk mengecilkan hatinya. Diantara yang mereka katakan kepadanya ialah: "Ia ('Ali) seorang yang miskin, tidak memiliki apa-apa …

Tak syak lagi bahwa dengan perbuatannya yang dusta itu al-Musawi bermaksud melontarkan tuduhan dengki dan nifaq kepada Abu Bakar dan 'Umar yang telah lebih dahulu meminang Fathimah, sebelum 'Ali meminangnya. Bukti kejahatan al-Musawi itu adalah catatan yang dibuatnya mengenai riwayat tersebut.

Adapun tanggapan atas tuduhan al-Musawi ini adalah sebagai berikut:

1. Tidak aneh jika al-Musawi menuduh Abu Bakar dan 'Umar dengan tuduhan nifaq dan hasad, dan mengulang-ulang tuduhan seperti itu dalam setiap kesempatan. Demikian itu memang kepercayaan kaum Rafidhah mengenai sahabat-sahabat nabi.

2. Riwayat mengenai perkawinan Fathimah dan 'Ali yang dikemukakan al-Musawi itu dinyatakan oleh adz-Dzahabi sebagai riwayat yang palsu. Hal ini dikemukakan adz-Dzahabi dalam menerangkan biografi Muhammad ibn Dinar dalam kitab al-Mizan. Adz-Dzahabi berkata: Ia (Ibn Dinar) mendatangkan hadits palsu, dan tidak jelas siapa dia. Dengan begitu, riwayat itu dipandang dha'if, lantaran tidak dikenalnya Muhammad ibn Dinar dan kedustaannya.

3. Kalaupun riwayat itu dipandang sahih, juga tidak terdapat sesuatu didalamnya yang menunjukkan bahwa Abu Bakar dan 'Umar bersikap nifaq dan hasad. Demikian ini jika kita yakin bahwa riwayat-riwayat itu tidak mengandung perbedaan tentang lebih dahulunya pinangan Abu Bakar dan 'Umar daripada pinangan 'Ali (kepada Fathimah). Kalau seandainya 'Ali yang lebih dulu meminang Fathimah, maka tuduhan al-Musawi masih beralasan.

Semua riwayat itu bersepakat mengenai dorongan Abu Bakar dan 'Umar kepada 'Ali untuk meminang, Fathimah, setelah Rasulullah saw menolak pinangan keduanya. Apa yang dilakukan dua orang itu (Abu Bakar dan 'Umar) jelas menolak tuduhan al-Musawi terhadap mereka, yaitu nifaq dan hasad. Justru hal itu menunjukkan kecintaan mereka kepada 'Ali, sebagamana mereka cinta kepada diri mereka sendiri. Coba anda renungkan ini!

Diceritakan dari Anas, sebagaimana yang tersebut dalam riwayat Ibn Abi Hatim, Ahmad, dan lainnya, bahwa ia berkata: "Abu Bakar dan 'Umar datang kepada Nabi untuk melamar Fathimah, lalu beliau berdiam, tidak memberikan jawaban apapun kepada mereka. Mereka kemudian pergi menemui 'Ali, dan menyuruh dia untuk melamarnya. 'Ali berkata: Mereka menyuruhku, maka aku pun bangun menyingsingkan selendangku hingga aku sampai kepada Nabi. Aku berkata: "Akankah anda mengawinkan aku dengan Fathimah"? Jawab nabi: "Adakah sesuatu padamu?". "Kudaku dan untaku", jawab 'Ali. Nabi berkata: "Adapun kudamu, haruslah tetap untukmu sedang untamu haruslah kamu jual." Lalu aku menjualnya dengan harga 480 (dinar), dan aku datang kepada Nabi dengan "membawa uang itu. Kemudian aku meletakkannya di kamar Nabi, maka Nabi pun menerimanya dengan senang, seraya berkata: "Wahai Bilal, belikan kami wangi-wangian dengan uang ini." Dan beliau menyuruh orang-orang untuk mempersiapkan pernikahan …"

4. Adapun riwayat yang dikemukakan oleh al-Musawi bahwa mereka mengirim wanita-wanita mereka menemui Fathimah guna membuatnya menolak perkawinannya dengan 'Ali, adalah dusta belaka. Hal seperti ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab para ahli yang muktabar.

Adapun riwayat yang dikemukakan al-Musawi, dan yang diriwayatkan oleh al-Khatib dalam kitab al-Muttafaq dengan salurannya ke Ibn 'Abbas: "Tidakkah engkau rela, (hai Fathimah), bahwa Allah telah memilih dua orang lelaki dari penghuni bumi. Yang satu adalah ayahmu, sedang yang lain suamimu". Adz-Dzahabi dalam Talkhishnya berkata: Bahkan hadits itu Maudhu' pada Suraij ibn Yunus.

Al-Musawi mengemukakan riwayat Abu ash-Shalt Abdus Salam ibn Shalih dari 'Abdul Razaq dari Ma'mar dari Abi Najih dari Mujahid dari Ibn 'Abbas, bahwa Fathimah berkata: "Ayah telah mengawinkan aku dengan seorang miskin yang tidak punya harta." Lalu nabi mengatakan seperti hadits di atas.

Adz-Dzahabi berkata: Perawi yang terakhir itu (Abu as-Shalt, peny.) pendusta. Di dalam Al-Mustadrak, jilid 3, hal. 129 dikatakan: Disandarkannya hadits ini pada al-Khathib mengesankan kedha'ifannya. Hal yang sama dinyatakan dalam mukaddimah al-Muntakhab. (Lihat catatan pinggir Musnad Ahmad, 1/9).

Adapun riwayat Ma'qil ibn Yasar: Diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah menjenguk Fathimah yang sedang menderita sakit. Nabi berkata kepadanya: "Bagaimana keadaanmu?" Jawabnya: "Demi Allah, kesedihanku telah memuncak, kemiskinanku sangat terasa, dan sakitku berkepanjangan…" Riwayat ini dha'if disebabkan adanya Khalid ibn Thuhman. Ibn Ma'in memandangnya dha'if. Menurut Abu Hatim, ia termasuk tokoh Syi'ah.

Mengenai diamnya Nabi bukanlah hal ini merupakan bukti dan pendukung didalam hadits ini. Pendukungnya justru tambahan yang dibuat oleh al-Musawi di dalam hadits ini, yaitu ucapan Nabi: "Tidakkah engkau puas, aku telah mengawinkanmu dengan seorang yang paling dahulu Islamnya diantara ummatku, seorang yang paling luas ilmunya, dan yang paling tinggi, rasa santunnya". Tambahan ini bukanlah hadits. Ia berasal dari riwayat 'Abdullah ibn Ahmad ibn Hambal dari ayahnya, dari kakeknya, sebagaimana dijelaskan dalam Musnad Ahmad, jilid 5, hal. 66. Abu 'Abdurahman berkata: Aku menemukan buku ayahku dengan tulisan tangannya dalam hadits ini: "Tidakkah engkau puas …"

Andaikata kita terima tambahan ini, maka tidak ada sesuatu didalamnya yang dapat menambah keutamaan 'Ali. Juga tidak ada sesuatu yang menunjuk atas kekhalifahannya. Renungkanlah ini!

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). © Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M