Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 50

Dalam dialog ini, al-Musawi begitu menggebu-gebu untuk menjadikan atsar-atsar mengenai keutamaan 'Ali sebagai dalil yang pasti mengenai keimaman 'Ali sepeninggal Nabi tanpa jarak pemisah. Sebelum kami membantah dalil-dalil ini dari segi sahih dan dha'ifnya, kami ingin mengemukakan sebagai berikut: Kitab-kitab hadits telah mengutip pelbagai keutamaan sahabat-sahabat Nabi, dan 'Ali termasuk salah seorang dari mereka. Jika hadits-hadits tentang keutamaan itu dapat dijadikan dalil kepemimpinan --sebagaimana dikatakan kaum Rafidhah-- maka setiap sahabat akan dapat mengklaim imamah dengan berdalil pada hadits-hadits mengenai keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Membatasi hal itu hanya untuk 'Ali saja adalah tindakan yang sewenang-wenang dan aniaya terhadap sahabat-sahabat Nabi yang lain, yang keutamaan-keutamaan mereka juga disebut dalam kitab-kitab hadits yang sahih. Jika mereka mengatakan bahwa hal itu berlaku umum, maka kami bertanya: Mengapa kaum Rafidhah menolak kepemimpinan Abu Bakar dan 'Umar, sedang mereka memiliki keutamaan-keutamaan yang benar dan sahih, yang melebihi keutamaan-keutamaan 'Ali? Ketahuilah bahwa sesungguhnya kaum Sunni tidak menjadikan keutamaan-keutamaan itu sebagai dalil yang tegas atas kepemimpinan mereka.

Mengenai nash-nash yang berkenaan dengan pelbagai keutamaan 'Ali dan yang dijadikan dasar oleh al-Musawi untuk mendukung apa yang ia dakwakan, maka pembicaraan mengenainya sudah disampaikan dalam menanggapi Dialog 20, 26, 36, 40, dan 48. Adapun nash-nash yang dikemukakan dalam Dialog no. 50 ini adalah sebagai berikut:

1. Hadits "'Ali bersama al-Qur'an, dan al-Qur'an bersama 'Ali. Keduanya tiada akan berpisah, sehingga mereka bertemu di al-Haudh (kolam di surga)".

Hadits ini menunjukkan keutamaan 'Ali. Ia mengungkapkan kepada kita bahwa 'Ali berada dalam kebenaran, dan kebenaran berada di pihak 'Ali. Kaum Sunni tidak menentang hal ini. Akan tetapi mereka menolak kalau hadits ini dijadikan dalil atas dakwaan kaum Rafidhah bahwa 'Ali adalah Khalifah dan Amirul Mu'minin setelah Nabi, tanpa jarak pemisah. Sebab tidak ditemukan satu kata pun dalam hadits ini yang mengandung pengertian tersebut, atau menunjuk pada pengertian itu, baik langsung ataupun tidak. Hadits ini tidak mengandung kata al-Imamah, juga tidak menyebutkan ketentuan mengenai batas waktu. Maka dari segi yang mana, mereka menarik kesimpulan tersebut, sehingga hadits itu menjadi dalil bagi dakwaan mereka? Jika hadits itu dijadikan dalil atas hak 'Ali sebagai Khalifah tanpa penjelasan waktu tertentu, maka kaum Sunni tidak akan menolaknya.

Mengenai hadits "'Ali dan aku seperti kedudukan kepalaku terhadap tubuhku."

Al-Khathib meriwayatkan hadits ini dalam kitab Tarikhnya. Ad-Dailami juga meriwayatkannya dalam al-Firdaus. Disandarkannya hadits ini kepada dua sumber di atas, sudah menunjukkan kedha'ifannya, sebagaimana diakui oleh para ahli hadits. Karena itu, hadits ini dha'if. Wallahu a'lam.

Mengenai hadits: "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangannya, kamu sekalian mesti mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, atau (jika tidak) akan kuutus kepadamu seorang laki-laki dariku atau yang seperti aku

Ibn Abi Syaibah telah meriwayatkan hadits ini. Ia hadits dha'if. Tak seorang pun dari penyusun kitab-kitab Sahih, Sunan maupun Musnad yang mengeluarkannya.

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M