Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 49

Dalam dialog ini al-Musawi mengemukakan sejumlah hadits melalui lisan Syeikh al-Bisyri, yang semuanya merupakan hadits-hadits yang tidak berdasar sama sekali. Saya tidak yakin kalau Syeikh tidak mengetahui keadaan hadits-hadits itu, sehingga beliau berkenan mengemukakannya, tanpa beristidhal dengan hadits yang ada dalam kitab-kitab sahih mengenai keutamaan 'Ali. Akan tetapi al-Musawi, seperti orang Rafidhah lainnya, tidaklah malu berbuat dusta. Maka saya yakin bahwa al-Musawilah sesungguhnya yang mengemukakan hadits-hadits itu dengan mencatut nama Syeikh al-Bisyri. Ini terlihat jelas dalam dialog-dialog yang ia kemukakan atas nama Syeikh tersebut. Orang yang mengerti sedikit saja mengenai bahasa Arab dan gaya bahasanya, pasti akan mengetahui hal ini.

1. Mengenai perkataan Ahmad ibn Hambal: "Tidak ada berita-berita mengenai keutamaan seseorang yang lebih banyak dari keutamaan 'Ali ibn Abi Thalib."

Sesungguhnya menyandarkan perkataan itu kepada Ahmad, tidaklah benar sama sekali. Ibn Taimiyah berkata:Ahmad ibn Hambal tidak akan mengatakan, perkataan itu. Beliau jauh dari kemungkinan mengucapkan dusta seperti itu. Hanya diriwayatkan dari Ahmad bahwa ia berkata: "Diriwayatkan mengenai 'Ali sesuatu yang tidak diriwayatkan mengenai orang lain." Sungguhpun demikian ucapan Ahmad ini masih bisa diperdebatkan.

Di sini terdapat perbedaan antara riwayat yang dikemukakan al-Musawi dengan riwayat yang dikemukakan Ibn Taimiyah dari Ahmad. Orang yang tahu sedikit saja tentang bahasa, pasti akan menangkap perbedaan ini. Perkataan al-Musawi berarti bahwa Imam Ahmad mengakui bahwa 'Ali memiliki banyak keutamaan yang diberitakan melalui berbagai riwayat dan yang melebihi keutamaan Abu Bakar, dan 'Umar. Sedang Ahmad terlalu jauh untuk berkata demikian.

Adapun riwayat Ibn Taimiyah berarti bahwa buku-buku yang memuat riwayat-riwayat keutamaan 'Ali lebih banyak jumlahnya daripada riwayat-riwayat mengenai keutamaan orang selain 'Ali. Namun buku-buku al-Fudhail tersebut penuh sesak dengan hadits-hadits palsu dan dha'if, sebagaimana diakui oleh para ahli. Jadi hadits-hadits palsu yang menerangkan keutamaan 'Ali jauh lebih banyak dari hadits-hadits yang menerangkan keutamaan orang selain 'Ali. Sebab hadits-hadits yang pertama adalah produk kaum Syi'ah yang menghalalkan dusta untuk menguatkan madzhab mereka. Sehingga walaupun ada kedustaan pada kelompok lain, namun dusta pada kelompok mereka lebih dominan. Sedang kejujuran pada mereka lebih sedikit.

Tidak adanya komentar adz-Dzahabi dalam Talkhisnya mengenai riwayat ini, tidaklah dapat dijadikan dalil akan kesahihannya. Berdiam diri dalam soal ini, tidak dapat dipandang sebagai suatu dalil. Ia harus dipahami sebagai tawaqquf (tidak menetapkan suatu hukum atau keputusan) lantaran tidak adanya pengetahuan yang memadai mengenai riwayat tersebut. Wallahu a'lam.

Mengenai perkataan Ibn 'Abbas: Tidak diturunkan --dalam Kitab Allah-- ayat-ayat mengenai seorang, sebanyak yang telah diturunkan mengenai 'Ali. Dan katanya lagi: Telah diturunkan berkenaan dengan 'Ali, tiga ratus ayat, dalam Kitab Allah. Riwayat ini dikemukakan oleh Ibn 'Asakir. Disandarkannya hadits ini kepadanya sudah menunjukkan kedha'ifannya. Demikian pula perkataan Ibn 'Abbas: "Allah tidak pernah menurunkan ayat ya ayyuhal-ladzina amanu, kecuali 'Ali sebagai pemimpin dan yang paling mulia diantara mereka" adalah hadits dha'if.

Orang yang dituduh sumber kedha'ifan hadits ini adalah Salam dan Jubair, keduanya adalah matruk. Demikian pula adh-Dhahhak, ia dha'if, seperti dikemukakan asy-Syaukani dalam al-Fawa'id al-Majmu'ah.

Mengemukakan biografi Salam dalam kitab Al-Mizan, adz-Dzahabi berkata: "Menurut Abu Hatim, ia tidak kuat, dan menurut Ibn 'Adi, haditsnya mungkar." Kemudian adz-Dzahabi menyebutkan delapan belas hadits. Ibn al-'Aqili berkata: Di dalam haditsnya banyak terdapat hal-hal yang mungkar."

Mengenai perkataan Ibn 'Abbas: "Telah diturunkan berkenaan dengan 'Ali sebanyak 300 ayat", Ibn al-Jauzi memandangnya maudhu'. Adapun ucapan yang disandarkan al-Musawi kepada Ahmad, Nasa'i dan an-Naisaburi, adalah ucapan-ucapan yang tidak sahih. Sebelumnya sudah dikemukakan bahwa Ahmad terlalu jauh untuk berkata demikian.

Kaum Sunni menetapkan keutamaan-keutamaan 'Ali dengan hadits-hadits sahih. Hadits-hadits itu sudah cukup menunjukkan keutamaan 'Ali, dan keagungannya, tak perlu ditambah dengan dusta dan membuat-buat hadits mengenai keutamaannya, baik melalui lidah Rasul, 'Ali, maupun lidah orang lain, dari para sahabat, tabi'in dan para ahli ilmu hadits.

Di dalam Talkhish al-Maudhu'at, adz-Dzahabi berkata: Tak ada hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan seorang sahabat sebanyak yang diriwayatkan mengenai 'Ali ibn Abi Thalib. Dan riwayat-riwayat itu terbagi dalam tiga bagian: sahih dan hasan, dan dha'if. Bagian kedua ini sangat banyak. Bagian ketiga adalah maudhu', dan ini yang paling banyak. Bahkan barangkali sebagian darinya sesat dan zindik. .

Dalam kitab Tanzih asy-Syari'ah karya adz-Dzahabi, dikutip pendapat al-Khalili dalam al-Irsyad sebagai berikut: "Sebagian huffadz berkata: Kuperhatikan hadits-hadits maudhu' yang dibuat penduduk Kufah mengenai keutamaan 'Ali dan keluarganya. Jumlahnya 300 ribu lebih."


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M