Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


Sanggahan terhadap Dialog 19

Apa yang terdapat dalam dialog nomor 19, yaitu penerimaan Syeikh al-Bisyri terhadap segala bentuk kepalsuan dan kedustaan yang dikemukakan al-Musawi dalam dialog nomor 18, tanpa bantahan dan tanpa mengemukakan pendapat Ahlus Sunnah, menunjukkan secara pasti bahwa dialog-dialog yang disandarkan kepada Syeikh tersebut adalah dialog-dialog palsu yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Syeikh al-Bisyri. Sesungguhnyalah, dialog-dialog itu buatan al-Musawi sendiri untuk menyesatkan ummat Islam. Pembaca tidak perlu heran, orang yang berani berdusta atas nama Allah, apakah ia akan takut untuk berdusta atas nama Syeikh al-Bisyri yang manusia biasa dan telah meninggal pula?

Kalau bukan demikian bagaimana mungkin Syeikh al-Bisyri akan menerima pemikiran al-Musawi bahwa dua belas imam Syi'ah lebih tepat untuk diikuti dibanding imam madzhab yang empat. Dari beberapa aspek pendapat ini tidak dapat dibenarkan:

  1. Madzhab dua belas imam merupakan madzhab yang tidak bersambung sanadnya (munqathi' al-isnad), sebab mereka menyandarkan semua pemikiran mereka kepada Imam Ja'far. Kecuali itu, tidak ada sanad yang sahih yang menetapkan validitas penisbatan pemikiran tersebut kepada imam Ja'far ataupun Imam 'Ali ibn Abi Thalib. Apalagi Syeikh al-Bisyri mengetahui bahwa orang Rafidhah menghalalkan dusta untuk menguatkan madzhab mereka. Dan beliau juga mengerti bahwa mereka tidak memiliki sanad.
  2. Madzhab dua belas imam itu serupa. Sedangkan sebabnya tidak dapat diterima sama sekali (bathil), yaitu mereka tidak menerima kecuali pendapat imam-imam mereka. Hal ini disebabkan kepercayaan mereka akan kema'shuman imam dan menjadi kafirnya orang yang berbeda pendapat dengan para imam.
  3. Bagaimana dapat dikatakan bahwa imam dua belas itu lebih unggul ilmunya dibanding empat imam madzhab, sedangkan imam madzhab tersebut menimba ilmunya dari hadits-hadits nabi yang sahih, baik melalui sanad Ahlul Bait maupun sanad lainnya dari para sahabat. Dengan demikian dalil mereka lebih luas, lebih sempurna dan lebih komprehensif. Sedangkan imam Syi'ah yang dua belas, mereka. tidak menerima kecuali dalil-dalil yang datang dari Ahlul Bait. Dengan demikian dalil mereka kurang sempurna dan komprehensip.
  4. Dalil-dalil yang digunakan dua belas imam syi'ah tidak bisa dibandingkan kesahihannya dengan dalil-dalil yang digunakan oleh empat imam madzhab.
  5. Untuk mengutamakan madzhab dua belas imam syi'ah itu secara keseluruhan daripada pemikiran empat imam madzhab, dituntut adanya kesahihan dalam pemikiran dua belas imam itu secara keseluruhan. Sedangkan dalam pemikiran madzhab dua belas imam itu terdapat pemikiran-pemikiran seperti berikut ini: Air yang sudah dipakai menghilangkan kotoran dipandang suci, khamr itu suci, dalam berwudhu tidak perlu membasuh seluruh muka, shalat di kuburan para imam dibenarkan, juga dibenarkan menjama' shalat yang rakaatnya empat (tanpa alasan, peny.) meninggalkan shalat Jum'at sebelum datangnya imam al-Mahdi, dan dibenarkan pula menyobek-nyobek pakaian ketika kematian ayah atau anak laki-laki.

Mereka juga memperbolehkan bagi orang yang berpuasa memakan kulit binatang, puasa hari Ghadir Khumm disunatkan, puasa 'Asyura sampai waktu Ashar saja, tidak sampai maghrib. Di dalam shalat orang, boleh makan dan minum, dalam melakukan ibadah haji boleh tidak menutup aurat. Seorang tidak boleh berjihad setelah meninggalnya Hasan dan Husain, kecuali bersama Imam Mahdi. Mereka juga memperbolehkan nikah mut'ah, dan mereka memandang nikah macam ini sebagai ibadah yang paling afdhal kepada Tuhan. Mereka juga memperbolehkan meminjamkan vagina wanita, dan mewaqafkan vagina budak perempuan. Bagi mereka berhubungan seks lewat jalan belakang (wathi') dengan wanita yang dinikahinya juga dibenarkan.

Setelah kita mengetahui pendapat-pendapat madzhab dua belas imam seperti tersebut di atas, masuk akalkah jika Syeikh al-Bisyri mengutamakan madzhab tersebut daripada madzhab imam empat? Semoga Allah melindunginya dari perbuatan itu!

 

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M