Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


4. PERBEDAAN RIWAYAT DARI RAFIDHAH DAN SYI'AH

Saya telah menjelaskan perbedaan antara ar-rafadh dan tasyayyu'. Rafadh adalah sikap mengutamakan 'Ali daripada Abu Bakar dan 'Umar. Kalau sikap ini diikuti dengan kebencian kepada Abu Bakar dan 'Umar secara terus terang ataupun tersamar, maka ini disebut rafadh yang ekstrim. Berikut ini kita simak pendapat para ulama tentang kaum Rafidhah.

Ibn Hajar berkata:1 "Pelaku bid'ah itu ada yang menjadi kafir dan fasiq. Bahwa perbuatan bid'ah ada yang menjadikan pelakunya kafir, ini disepakati oleh para ulama. Misalnya, (bid'ah) pada ajaran Rafidhah ekstrim. Sebagian Rafidhah meyakini bahwa Tuhan telah mengambil tempat pada diri 'Ali dan lainnya. Menurut mereka, 'Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat.

Syi'ah Imamiyah juga meyakini kebangkitan kembali Imam Muhammad ibn Hasan al-Askari berikut para pendukung maupun musuhnya, sebelum hari kiamat. Mereka ini tergolong kaum Rafidhah ekstrim yang dipandang kafir lantaran bid'ahnya, dan karenanya, riwayat mereka ditolak."

Dr. Musthafa as-Siba'i, dalam buku as-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri' al-Islami, mengutip tulisan Imam 'Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam buku al-Farq bayn al-Firaq sebagai berikut:2

"Satu hal yang cukup jelas bagi saya, bahwa ulama al-Jarh wat-ta'dil menolak riwayat pembid'ah apabila (hadits) yang diriwayatkan itu sesuai dengan ajaran bid'ahnya. Para ulama juga menolak riwayat orang yang membolehkan dusta, misalnya untuk membuat hadits palsu sesuka hati. Karena itu ulama al jarh wat-ta'dil menolak riwayat kaum Rafidhah. Tetapi, para ulama itu menerima riwayat sebagian orang Syi'ah yang dikenal jujur (shidq wa amanah)."

Ma'mal ibn Ihab mengaku mendengar Yazid ibn Harun berkata, "Aku mencatat (riwayat) dari pembid'ah walaupun ia mempromosikan bid'ahnya, kecuali riwayat kaum Rafidhah yang suka berdusta"3

Muhammad ibn Said al-Ashbihani mengaku mendengar Syarik berkata:4 "Reguklah ilmu dari setiap orang yang kau jumpai, kecuali orang Rafidhah. Mereka (suka) membuat hadits palsu untuk dijadikan sebagai agama." Syarik, nama lengkapnya Syarik ibn 'Abdillah al-Qadhi. la hakim di Kufah, yang hidup semasa dengan ats-Tsawri dan Abu Hanifah. la seorang Syi'ah, yang tegas menyatakan: Ana min asy-Syi'ah (Aku orang Syi'ah). Namun begitulah kesaksiannya tentang orang Rafidhah.

Hammad ibn Salamah bercerita tentang seorang guru Rafidhah yang berkata: "Bila kami sedang berkumpul, dan melihat sesuatu yang kami pandang baik, maka langsung itu kami jadikan sebuah hadits."5

Menurut Abul Qasim ath-Thabari, Imam Syafi'i pernah berkata begini, "Aku tak pernah melihat orang yang paling suka memberikan kesaksian palsu, lebih daripada kaum Rafidhah."6

Selain itu, banyak lagi pernyataan-pernyataan yang senada. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak, silahkan membaca buku Minhaj as-Sunnah dan al-Muntaqa, kedua-duanya karya ibn Taymiyyah.

Catatan Kaki:

1 Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal. 143.

2 As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri' al-Islami, hal. 93, 94.

3 Minhaj as-Sunnah, juz 1, hal. 13.

4 Idem.

5 Idem.

6 Idem.

 

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M