Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


86. Al-Minhal ibn Amr al-Kufi1

Ia adalah salah seorang tabi'in. Ibn Mu'in memandang dia sebagai orang yang tsiqat. Demikian pula Nasa'i, 'Ajli dan ulama hadits lainnya. Abu Hatim berkata bahwa ia mendengar 'Abdullah ibn Ahmad berkata: "Aku mendengar bapakku berkata: Syu'bah secara sengaja meninggalkan Minhal ibn Amr. Ibn Abi Hatim berkata: "Di rumahnya sering terdengar suara bacaan yang didendangkan". Wahab ibn Jarir menceritakan dari Syu'bah bahwa ia berkata: "Aku datang ke rumah Minhal, lalu aku mendengar suara tambur, maka aku segera kembali, tidak bertanya kepadanya". Ibn Jarir berkata: "Tidakkah sebaiknya engkau bertanya kepada Minhal, kalau-kalau ia sendiri tidak mengerti kejadian itu?"

Abu Khaytsamah meriwayatkan dari Mughirah ibn Muqsam bahwa ia melarang A'masy meriwayatkan hadits dari Minhal. Kepada Yazid ibn Abu Ziyad, Mughirah berkata: "Demi Allah, apakah kesaksian Minhal itu dapat diterima? "Tidak," jawab Yazid. Al-'Ala'i menceritakan bahwa Ibn Mu'in memaudhu'kan keadaan Minhal. Al-Jauzjani berkata: "Minhal adalah orang yang buruk madzhabnya, dan berpengaruh pada hadits-haditsnya.

Dari pendapat-pendapat di atas dapat, disimpulkan bahwa para ulama sepakat mengenai adil, tsiqat dan kuatnya ingatan Minhal. Mereka tidak melontarkan kritik yang berpengaruh atau merusak riwayat hadits yang dilakukannya. Mengenai berita bahwa di rumahnya terdapat suara bacaan yang meliuk-liuk, hal itu tidak mesti memvonis atau menjatuhkan martabat Minhal. Demikian pula adanya berita bahwa di rumahnya terdengar suara gendang. Sebab bisa terjadi Minhal sendiri tidak mengetahuinya, sebab ia tidak ada di rumah. Dan seandainya ia ada dan mendengar, tentu ia tidak akan membolehkannya. Atas dasar ini, maka penolakan Syu'bah hanyalah karena faktor hati-hati alias ikhtiyath. Ini menunjukkan canggihnya ulama Sunni dalam hal jarh wa ta'dil dan dalam penerimaan hadits.

Mengenai riwayat Hutsaymah, itu tidak dapat dibenarkan. Sebab perawinya adalah Muhammad ibn 'Umar al-Hanafi, orang yang tak dikenal. Kalaupun riwayat itu benar, itu hanyalah karena Mughirah, sebagaimana Syu'ba, tidak suka lagu-lagu dari Minhal. Sebab Jarir pernah menceritakan bahwa Mughirah berkata: "Minhal adalah seorang yang bagus suaranya. Ia memiliki gaya bacaan yang disebut wazan tujuh. Dengan demikian, hal itu tidaklah merusak sifat tsiqat Minhal, sebagaimana dinyatakan Ibn Hajar dalam kitab Hadi as-Sari.

Mengenai riwayat al-Ala'i, Ibn Hajar berkomentar: "Mungkin ibn Mu'in memaudhu'kan Minhal bila dikaitkan dengan orang lain, sebagaimana hikayat dari Ahmad. Sebab terbukti Abu Hatim menceritakan bahwa Ibn Mu'in memandang Minhal sebagai orang yang tsiqat. Mengenai pernyataan al-Jauzjani, maka sering saya kemukakan bahwa kecamannya terhadap orang Kufah tidak bisa diterima, sebab ia orang yang paling serong dan tidak jujur. Lagi pula, tidak seorang pun dari ulama hadits yang mengecam paham Minhal, selain al-Jauzjani.

Mengenai klaim al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi'ah, bahwa Minhal seorang Syi'ah, klaim ini tidak didukung oleh acuan yang dipercaya. Dia hanya bersandar pada salah satu kitab Syi'ah yang dipertanyakan objektivitas dan keilmiahannya. Sungguhpun demikian, Bukhari tidak meriwayatkan hadits Minhal, kecuali 2 saja.

Yang pertama, hadits yang menerangkan tentang ta'widz al-Hasan wal-Husayn. Kedua, hadits mengenai tafsir Ha-Mim Fushshilat. Hadits ini diperselisihkan, apakah maudhu' atau mu'affaq, seperti diungkap Ibn Hajar ra.

Catatan kaki:

1 Hadi as-Sari 2/215; Tahdzib at-Tahdzib, 10/319; Mizan al-l'tidal 4/192.

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M