Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ah-nya al-Musawi

Mahmud az-Za'by


56. 'Utsman ibn 'Umair, Abu al-Yaqdhan ats-Tsaqafi al-Kufi al-Bajili1

Sungguh mengherankan bagaimana penulis Dialog Sunnah-Syi'ah, tokoh kaum Rafidhah, berbuat dusta atas diri ulama-ulama Sunni. Ia menuduh mereka tidak jujur, fanatik, mengikuti hawa nafsu, dan tidak mempunyai metoda. Hal ini terlihat dari ucapannya sebagai berikut: "Kalau ulama Sunni hendak menjatuhkan seorang muhaddits Syi'ah, maka mereka katakan bahwa perawi itu mempercayai paham raj'ah. Sebab itulah, mereka mendha'ifkan 'Utsman ibn 'Umair."

Kami dengan mudah dapat menolak tuduhan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi'ah itu. Di sini dapat dikemukakan pertanyaan: jika benar ulama Sunni seperti yang anda tuduhkan, mengapa mereka menerima dan menjadikan hujjah hadits riwayat 'Ubaidillah ibn Musa al-'Absi, 'Abdurrazaq ibn Himam, Abban ibn Tugblab, 'Abdullah ibn Luhai'ah dan lain-lain, yaitu sepuluh perawi yang anda pandang sebagai perawi Syi'ah yang tsiqat? Mengapa ulama Sunni tidak menuduh mereka dengan raj'ah?

Tuduhan di atas jelas dusta. Tapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi'ah, meyakini bahwa kaum Sunni seperti kaum Rafidhah yang menghalalkan dusta untuk menguatkan mazhab mereka. Bukti lain yang menunjukkan bahwa tuduhan itu tidak benar adalah kenyataan bahwa ulama Sunni, seandainya benar seperti yang dituduhkan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi'ah, tentu mereka akan mengambil pernyataan keras al-Jauzjani dan lainnya mengenai Syi'ah. Akan tetapi mereka tidak melakukan hal itu. Agama mereka, ketakwaan dan kejujuran mereka, melarangnya.

Di sini saya akan mengemukakan pendapat-pendapat yang obyektif dari orang-orang yang terpercaya mengenai diri 'Utsman ibn 'Umair. Menurut adz-Dzahabi, semua ulama mendha'ifkan 'Utsman. Menurut Ibn Mu'in, ia bukan apa-apa. Abu Ahmad az-Zubairi berkata: "'Utsman ibn 'Umair percaya pada ajaran raj'ah." Berkata an-Nasa'i: "Ia dha'if, bukan perawi yang kuat'" Ad-Daruquthni memandang dia dha'if. Al-Fallas berkata: "Yahya dan 'Abdurrahman tidak sudi menerima hadits dari Utsman Abu al-Yaqdhan."

Imam Ahmad berkata: "Abu al-Yaqdhan berperang bersama Ibrahim ibn 'Abdullah ibn Hasan pada waktu terjadi fitnah. Abu al-Yaqdhan adalah dha'if" Ibn 'Adi berkata: "Pemikiran Abu al-Yaqdhan buruk, ia percaya pada ajaran raj'ah." Para perawi hadits yang tsiqat meriwayatkan hadits darinya dengan catatan dha'if. Dalam kitab al-Awsath, Imam Bukhari menyatakan hadits Abu al-Yaqdhan munkar. Menurut Ibn Abd al-Bar, semua ulama memandangnya dha'if.

Inilah pendapat para ulama yang terpercaya mengenai diri 'Utsman ibn 'Umair. Mereka adalah orang-orang yang jujur, tidak mengenal dusta. Mereka tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu dalam memberikan penilaian terhadap seseorang.

Abu Dawud dan at-Turmudzi memang menerima hadits darinya, tapi tidak dimaksudkan sebagai hujjah, melainkan untuk sekedar i'tibar. Sebab sebuah hadits bisa didaftar, walau ia tidak dijadikan hujjah. Hal seperti itu lazim dan absah di kalangan ahli hadits.

Catatan kaki:

1 Tahdzib at-Tahdzib,7/145; Mizan al-I'tidal 3/50.

Daftar Isi | al-Firdaus.com


Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi oleh Mahmud az-Zaby
Diterjemahkan dari Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at
karangan Mahmud az-Za'bi, (t.p), (t.t). Mahmud az-Za'bi.
Penerjemah: Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail
Penyunting: Ahsin Mohammad
Diterbitkan oleh Penerbit PUSTAKA
Jalan Ganesha 7, Tilp. 84186
Bandung, 40132
Cetakan I : 1410H-1989M