Himpunan Risalah Dalam Beberapa Persoalan Ummah

(Buku 3)

 

Penyusun : Hafiz Firdaus Abdullah

 

Indeks

 

Maklumat Buku

 

Kata Pengantar

 

Tajuk 1

 

Tajuk 2

 

Tajuk 3

 

Tajuk 4

 

Tajuk 5

 

Tajuk 6

 

Tajuk 7

 

Tajuk 8

 

Tajuk 9

 

Tajuk 10

 

 

 

 

Apakah Wahabi?

Oleh: Abu Ubaidah Al Atsari dan Abu Usamah[1]

 

 

Pertarungan antara Ahl al-Tawhid dan Ahl al-Syirik merupakan sunnatullah yang tetap berjalan, tidak akan berakhir hingga matahari terbit dari sebelah barat. Hal ini merupakan ujian dan cubaan bagi Ahl al-Haq agar terjadi jihad fi sabilillah dengan lidah, pena ataupun senjata.

 

Dan sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia membinasakan mereka (dengan tidak payah kamu memeranginya); tetapi Dia (perintahkan kamu berbuat demikian) kerana hendak menguji kesabaran kamu menentang golongan yang kufur ingkar (yang mencerobohi kamu).[2]

 

Kita lihat musuh-musuh tauhid berusaha sekuat tenaga dengan mengorbankan waktu dan harta mereka tanpa mengenal lelah untuk membela kebatilan mereka, menebarkan kesesatan mereka, dan memadamkan cahaya Rabb mereka.

 

Mereka hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki melainkan menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak suka (akan yang demikian).[3]

 

Salah satu senjata utama mereka untuk memadamkan cahaya Allah ialah dengan menjauhkan manusia dari da'i yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, dengan gelar-gelar yang jelek dan mengerikan. Seperti kata yang popular di tengah masyarakat yaitu “Wahabi”. Semua itu dengan tujuan menjauhkan manusia dari dakwah yang benar.

Apa sebenarnya Wahabi? Mengapa mereka begitu benci separuh mati terhadap Wahabi? Sehingga buku-buku yang membicarakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mencapai 80 kitab atau lebih. Api kebencian mereka begitu membara hingga salah seorang di antara mereka mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukan anak manusia, melainkan anak setan, Subhanallah, adakah kebohongan setelah kebohongan ini?

 

…besar sungguh perkataan syirik yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan perkara yang dusta.[4]

 

Hal seperti ini terus diwarisi hingga sekarang. Maka kita lihat orang-orang yang berlagak alim atau ustaz bangkit berteriak memperingatkan para pengikutnya, membutakan hati mereka dari dakwah yang penuh barakah ini, dan dari para da'i penyeru tauhid pemberantas syirik dengan sebutan-sebutan dan gelaran-gelaran yang menggelikan, seperti gelaran “Wahabi”. Padahal mereka tidak mengetahui hakikat dakwah yang dilancarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

 

…Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya).[5]

 

…yang demikian itu, kerana mereka ialah kaum yang tidak mengerti.[6]

 

Yang mereka dengar hanyalah tuduhan-tuduhan di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya jatuh bersama-sama mereka ke dalam neraka Jahannam. Tuduhan-tuduhan mereka tidaklah ilmiah sama sekali, lebih lemah dari sarang labah-labah.  

 

Misal bandingan orang-orang yang menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai pelindung-pelindung (yang diharapkan pertolongannya) adalah seperti labah-labah yang membuat sarang (untuk menjadi tempat perlindungannya); padahal sesungguhnya sarang-sarang yang paling reput ialah sarang labah-labah, kalaulah mereka orang-orang yang berpengetahuan.[7]

 

Semoga kalimat sederhana ini dapat membuka pandangan mata mereka terhadap dakwah ini dan agar binasa orang yang binasa di atas keterangan yang nyata pula. Dan jangan sampai mereka termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah:

 

Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertaqwalah engkau kepada Allah" timbullah kesombongannya dengan (meneruskan) dosa (yang dilakukannya itu). Oleh itu padanlah ia (menerima balasan azab) neraka jahannam dan demi sesungguhnya, (neraka jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal.[8]

 

 

 

Apakah Wahabi?

Perlu ditegaskan di sini bahwa penamaan dakwah ini dengan “Dakwah Wahabiyah” dan para pengikutnya dengan “Wahabi” merupakan kesalahan kalau ditinjau dari segi lafaz dan maknanya.

 

Dari segi lafaz, penamaan “Wahabiyah” dinisbatkan kepada Abdul Wahhab yang tidak mempunyai sangkut paut dengan dakwah ini.[9] Ia tidak dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, yang menurut mereka, beliau adalah pendirinya. Kalaulah mereka jujur, tentu menamakannya dengan “Dakwah Muhammadiyah” karena nama beliau adalah Muhammad. Namun karena mereka menganggap bahwa jika menamakan dakwah ini dengan “Dakwah Muhammadiyah”, ia tidak akan menjauhkan manusia, maka mereka menggantinya dengan “Dakwah Wahabiyah”.

 

Adapun dari segi makna, maka mereka juga keliru di dalamnya sebab dakwah ini mengikuti manhaj dakwah al-Salaf al-Soleh dari kalangan sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Kalaulah mereka jujur, tentunya menamai dakwah ini dengan dakwah Salafiyyah.

 

Jadi apakah sebenarnya Wahabiyah? Dalam Kitab Fatwa Al Lajnah Ad Da'imah[10]Juz 2, hal 174 diterangkan:

 

Wahabiyah adalah sebuah lafaz yang dilontarkan oleh musuh-musuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab disebabkan dakwah beliau di dalam memurnikan tauhid, membasmi syirik dan membendung seluruh tatacara ibadah yang tidak dicontohkan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Tujuan mereka dalam menggunakan lafaz ini ialah untuk menjauhkan manusia dari dakwah beliau dan menghalangi mereka agar tidak mahu mendengarkan perkataan beliau.

Sungguh sangat menghairankan omongan kebanyakan manusia, ketika mereka melihat seorang yang mengagungkan tauhid, menyeru dan membelanya, mereka menyebutnya sebagai “Wahabi”. Yang lebih lucu adalah apabila mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim keduanya adalah Wahabi. Subhanallah! Apakah Muhammad bin Abdul Wahhab melahirkan orang yang hidupnya lebih dulu beberapa abad dari dirinya?[11]

 

 

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata:

 

Mungkin sebagian orang-orang bodoh akan menuduh Imam al-Suyuti dengan Wahabi sebagaimana adat mereka. Padahal jarak wafat antara keduanya kurang lebih 300 tahun.[12]

 

 Aku teringat cerita menarik sekali, terjadi di salah satu sekolah di Damaskus (Syria) ketika seorang guru sejarah beragama Nashara (Kristian) menceritakan tentang sejarah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya dalam memerangi syirik, khurafat dan bid'ah. Sehingga seakan-akan guru Nashara itu memuji dan kagum kepadanya. Maka berkatalah salah seorang muridnya, “Wah guru kita menjadi Wahhabi!”.

 

Demikianlah kebencian mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya, bahkan kepada orang Nashranipun -yang nyata-nyata bukan Muslimin- mereka tuduh “Wahabi”.

 

Dan mereka tidak marah dan menyeksakan orang-orang yang beriman itu melainkan kerana orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Terpuji![13]

 

 

Beberapa Tuduhan dan Jawapan

Beragam penilaian manusia dalam menilai dakwah ini. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa dakwah ini adalah mazhab kelima setelah empat mazhab yang lain. Sebagian lagi menganggap bahwa Wahabi sangat ekstrim sehingga mudah mengkafirkan kaum muslimin. Sebahagian lagi menganggap bahwa Wahabi tidak mencintai Rasulullah dan para wali. Serta anggapan-anggapan lainnya yang sama sekali tidak ada buktinya.

 

Sebelum membantah tuduhan-tuduhan mereka renungilah perkataan al-‘Allamah Muhammad Rasyid Ridha berikut ini:

 

Pada masa kecilku, aku sering mendengar cerita tentang “Wahabiyah” dari buku-buku Dahlan[14] dan selainnya. Sayapun membenarkannya karena taqlid kepada guru-guru kami dan bapak-bapak kami.[15] Saya baru tahu tentang hakikat jama'ah ini setelah hijrah ke Mesir. Ternyata aku mengetahui dengan yakin bahwa mereka (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya) yang berada di atas hidayah. Kemudian saya mengkaji buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab anak-anaknya, dan cucu-cucunya serta ulama-ulama lainnya dari Najd (sebuah daerah di Arab Saudi), maka saya mengetahui bahwa tidak terdapat sebuah tuduhan serta celaan yang dilontarkan kepada mereka kecuali mereka menjawabnya. Jika tuduhan itu dusta mereka berkata, “Maha Suci Engkau (Ya, Allah), ini adalah kedustaan yang besar.” Akan tetapi jika tuduhan itu ada asalnya, mereka menjelaskan hakikatnya dan membantahnya. Sesungguhnya ulama’ Sunnah dari India dan Yaman telah meneliti, membahas dan menyelidiki tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa para penuduh itu sebenarnya tidak amanah dan tidak jujur.

 

Baiklah, sekarang kita kaji tuduhan-tuduhan mereka dan jawapannya.

 

Supaya Allah menegakkan yang benar dan menghapuskan yang salah (kufur dan syirik), sekalipun golongan (kafir musyrik) yang berdosa itu tidak menyukainya.[16]

 

 

 

Tuduhan Pertama:

Mereka, ahli bid'ah, menganggap bahwa dakwah Wahabiyah merupakan mazhab kelima setelah empat mazhab lainnya (Hambali, Maliki, Syafi'i dan Hanafi).

 

Jawapan kepada tuduhan pertama:

Ini merupakan kejahilan mereka, sebab telah merupakan perkara yang masyhur dan memang nyata bahwa dakwah ini bukanlah dakwah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam hal aqidah mengikuti mazhab Salaf. Adapun dalam masalah furu' mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Hambali). Maka bagaimanakah mereka menyatakan bahwa Wahabiyah merupakan dakwah baru serta dianggapnya sebagai jama'ah sesat dan rosak? Semoga Allah menghancurkan kejahilan, hawa nafsu dan taqlid.

 

Syaikh Muhammad Jamil Zainu pernah bercerita:

 

Aku pernah bertemu seorang di Syria yang mengatakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa beliau adalah pendiri mazhab kelima dari empat mazhab. Maka akupun berkata kepadanya bahwa bagaimana anda mengatakan demikian padahal bukankah sudah masyhur bahawa mazhab beliau adalah Hambali? Sungguh ini adalah kedustaan dan tuduhan tanpa bukti.

 

 

 

Tuduhan Kedua:

Mereka menganggap bahwa dakwah Wahabiyah mudah mengkafirkan kaum muslimin.

 

Jawaban kepada tuduhan kedua:

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menjawab tuduhan ini ketika menuliskan dalam suratnya kepada Suwaidiy, seorang alim dari Iraq (pada zamannya):

 

Adapun apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan kaum manusia, kecuali yang mengikutiku dan bahwasanya aku menganggap pernikahan-pernikahan mereka tidak sah, maka saya katakah bahwa sungguh mengherankan, bagaimana hal ini dapat masuk akal, apakah ada seorang muslim yang mengatakan demikian. Ketahuilah aku berlepas diri kepada Allah dari tuduhan ini, yang tidak muncul melainkan dari orang yang terbalik akalnya. Adapun yang saya kafirkan adalah orang yang telah mengetahui agama Rasul, kemudian setelah mengetahuinya ia mencelanya, melarangnya dan memusuhi orang yang menegakkannya. Inilah yang saya kafirkan.

 

 

 

Tuduhan Ketiga:

Mereka menuduh bahwa Wahabi tidak mencintai Rasulullah.

 

Jawapan kepada tuduhan ketiga:

Ketahuilah wahai orang-orang yang berakal, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai kitab yang berjudul Mukhtashar Sirah al-Rasul yang berisi tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap baginda.

 

Maka tuduhan ini merupakan kedustaan dan kebohongan yang akan diminta pertanggungjawabannya di sisi Allah. Kemudian kita katakan kepada mereka, yakni para penuduh, apakah cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengadakan (perayaan) Maulid Nabi, Shalawatan bid'ah[17] atau selainnya yang tidak pernah diajarkan Rasulullah sendiri? Atau cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengagungkan sunnahnya, menghidupkannya, membelanya serta memberantas lawannya (yaitu bid'ah) sampai keakar-akarnya. Jawablah wahai orang-orang yang dikurniakan akal.

 

Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”[18]

 

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, juz 2 hal 37:

 

Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengakui mencintai Allah padahal tidak mengikuti manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah. Dia  dianggap dusta dalam pengakuannya hingga dia mengikuti syari'at Rasulullah dalam segala hal, baik dalam perkataan, perbuatan maupun keadaan.

 

 

 

Tuduhan keempat:

Mereka menuduh bahwa Wahabi menganggap diri mereka maksum sehingga hanya merekalah yang benar dan tidak menerima kesalahan. Adapun selain mereka dianggap penuh kesalahan dan tidak pernah benar.

 

Jawapan kepada tuduhan keempat:

Sungguh ini adalah tuduhan dusta. Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dalam salah satu suratnya berkata:

 

Dan aku berharap agar aku tidak menolak kebenaran yang datang kepadaku. Aku bersaksi kepada Allah, para Malaikat-Nya bahwa apabila datang kepadaku kebenaran, aku akan menerimanya dan aku akan lemparkan semua perkataan imamku yang menyelisihi kebenaran, selain Rasulullah, karena dia tidak mengatakan sesuatu kecuali yang benar.

 

 

 

Tuduhan kelima:

Mereka menuduh bahwa Wahabi mengingkari syafa'at Rasulullah.

 

Jawapan kepada tuduhan kelima:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyatakan:

 

Tidak asing lagi bagi orang yang berakal dan mempelajari sirah perjalanan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya yang harum namanya, bahwa mereka semuanya berlepas diri dari tuduhan ini. Lihatlah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab telah menetapkan syafa'at Rasul bagi umatnya dalam berbagai karya-karya beliau, seperti Kitab Tauhid dan Kasyfus Subhat, maka dari sini jelaslah bagi kita bahwa tuduhan ini bathil dan dusta. Sebenarnya yang diingkari oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah meminta syafa'at kepada orang-orang yang sudah mati.

 

 

 

Tuduhan keenam:

Mereka menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di akhir hayatnya menyimpang dari jalan yang benar dengan menolak beberapa hadis yang tidak cocok dengan akalnya.

 

Jawapan kepada tuduhan keenam:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz telah menyanggah tuduhan ini dengan perkataan:

 

Ini termasuk tuduhan dusta karena beliau diwafatkan sedangkan beliau termasuk da'i besar yang menyeru kepada aqidah salaf dan manhaj yang sahih, maka tuduhan ini sangatlah dusta karena beliau sangat menghormati sunnah, menerima dan mendakwahkannya hingga akhir hayatnya.

 

 

Demikianlah sekelumit tuduhan-tuduhan ahli bid'ah terhadap dakwah yang penuh barakah ini. Semua itu hanyalah kedustaan di atas kedustaan. Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Mubarak, “Isnad itu termasuk agama, seandainya tanpa isnad maka manusia akan berkata semahunya.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata dalam Majmu' Fatawa, Juz I, ms. 9:

 

Ilmu sanad dan riwayat merupakan kekhususan umat nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Allah menjadikannya sebagai tangga kebenaran. Ketika Ahl al-Kitab tidak mempunyai ilmu sanad maka bertebaranlah penukilan-penukilan dusta di antara mereka. Demikian juga para penyesat dan Ahl al-Bid'ah dari kalangan umat ini sama dengan Ahl al-Kitab, tidak ada bedanya. Maka dengan ilmu sanadlah dapat terbedakan antara al-haq dan al-bathil.[19]

 

 

Untuk mengakhiri pembahasan kita, rasanya sangat penting bagi kita memperhatikan tiga perkara berikut, sekaligus sebagai kesimpulan dari uraian di atas:

 

Pertama: Hakikat dakwah Wahabiyah.

 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata:

 

Hakikat dakwah ini, sebagaimana dakwah Nabi Muhammad, ialah memurnikan tauhid dan mewujudkan tuntutan syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah. Yang demikian itu dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja dan  menjadikan Rasulullah sebagai panutan yang agung. Mereka (Wahabi) adalah golongan yang berjalan di atas manhaj Salaf dari kalangan sahabat, tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka, baik dalam aqidah, perkataan ataupun perbuatannya. Inilah manhaj yang wajib bagi setiap muslim untuk berjalan di atasnya, meyakininya dan mendakwahkannya.

 

 

Kedua: Hukum orang yang mencela Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz selanjutnya menegaskan:

 

Sesungguhnyua orang-orang yang mencela Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terdiri daripada dua kemungkinan. Yang pertama dia adalah seorang yang bergelimang dengan syirk sehingga dia memusuhi Syaikh karena dakwahnya yang mengajak kepada tauhid dan membasmi segala macam kesyirikan. Yang kedua dia adalah orang yang jahil yang tertipu oleh da'i-da'i penyesat. Maka alangkah lucunya golongan jahil ini karena mereka mengikuti orang yang jahil sejenis mereka.

 

 

Ketiga: Himbauan dan Ajakan.

 

Kepada mereka yang benci dan hasad kepada dakwah yang penuh barakah ini, kami nasihatkan: Bukalah pandangan mata kalian, bangunlah dari tidur kalian, hilangkan segala kedengkian yang ada di hati kalian. Bacalah dan cermatilah buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya dengan lapang dada, nescaya kalian akan dapati bahwa kalian berada dalam tipuan dan kegelapan.[20]

 

 

 TOP

 


 

[1]  Dipaparkan dengan izin Majalah As Sunnah Edisi 12/Th.IV/1421 – 2000, asalnya dengan judul Dakwah Wahhabiyah. Diikuti dengan beberapa suntingan bahasa dan catitan tambahan.

[2]  Muhammad (47):4

[3] al-Taubah (9):32

[4] al-Kahfi  (18):5

[5] al-Baqarah (2):13

[6] al-Hasyr (59):13

[7] al-Ankabut  (29):41

[8] al-Baqarah (2):206

[9]  Ini kerana Abdul Wahhab adalah ayah kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yang mendirikan dakwah ini adalah Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab, maka sepatutnya gelaran disandarkan kepada Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab. Sebab mengapa gelaran sengaja dialih daripada Muhammad diterangkan seterusnya di atas. (Hafiz Firdaus).

[10] Sebuah lembaga pemberi fatwa di Saudi Arabia

[11] Ini kerana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia pada tahun 1206H manakala Imam Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada tahun 728H dan Imam Ibnul Qayyim pada tahun 757H. (Hafiz Firdaus).

[12] Imam al-Suyuti meninggal dunia pada tahun 911H.

[13] al-Buruj (85):8

[14] Yang dimaksudkan ialah Ahmad Zaini Dahlan, seorang yang memusuhi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata kerana dakwah tersebut menyalahi pegangan dan kedudukannya. Sepertimana kata Syaikh Rasyid Ridha di atas, jika kita mengkaji buku-buku karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para tokohnya, ternyata bahawa cerita negatif “Wahabiyah” yang dibawa oleh Ahmad Zaini Dahlan adalah dusta. (Hafiz Firdaus)

[15]Inilah hakikat yang berlaku di Malaysia juga. Kebanyakan orang membenci dan menolak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata kerana ikutan kepada orang-orang sebelum mereka tanpa mengkaji secara ilmiah apa dan bagaimana dakwah tersebut. (Hafiz Firdaus)

[16] al-Anfaal (8):8

[17] Yakni bacaan-bacaan selawat yang tidak diajar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Bacaan selawat yang terbaik, teragung, terbesar, termulia adalah bacaan selawat yang diajarkan sendiri oleh Rasulullah, yakni apa yang kita lazim membaca ketika duduk tasyahud dalam solat. (Hafiz Firdaus).

[18] Ali ‘Imran (3):31

[19] Maksudnya, tanpa memerhatikan ilmu sanad, umat Islam akan membuat pelbagai andaian tentang agama ini, termasuklah berburuk sangka sehingga memfitnah para tokohnya. Oleh itu hendaklah kita mengkaji ilmu-ilmu agama dan dakwah para tokohnya berdasarkan ilmu sanad, yakni dengan memerhatikan sumber-sumbernya secara ilmiah dan jujur. Manhaj ini hendaklah kita terapkan dalam diri kita agar kita beragama secara benar dan asli, bukan andaian dan rekaan. (Hafiz Firdaus)

[20] Berikut disenaraikan beberapa rujukan yang disyorkan tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab:

  1. Muhammad Ibn Abdil Wahhab: His Life Story and Mission oleh Jalal Abualrub (Madinah Publishers and Distributors, Florida 2003). Buku ini memberi tumpuan kepada sejarah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjawab tuduhan-tuduhan dalam konteks sejarah, seperti kononnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bekerja sama dengan negara-negara Barat untuk menjatuhkan kerajaan Turki Uthmaniyah. Boleh dipesan melalui www.madinahstore.com

  2. Syarah Kitab Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (edisi terjemahan oleh Kathur Suhardi dari judul asal al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab al-Tauhid; Darul Falah, Jakarta 2003). Ini merupakan syarahan kepada Kitab al-Tauhid yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kitab ini mengupas tatacara tauhid yang sebenar dan perkara-perkara yang mencemari kemurnian tauhid tersebut.

  3. Perilaku dan Akhlak Jahiliyah oleh Syaikh Shalih bin Fawzan al-Fawzan (edisi terjemahan oleh Hannan Hoesin & Rusydi A. Salamah dari judul asal Syarh Masa’il al-Jahiliyah; Maktabah Salafy, Gajah Mada 2002). Ini merupakan syarahan kepada kitab Masa’il al-Jahiliyah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia menerangkan pelbagai amalan jahiliyah yang wujud pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang kini wujud kembali pada zaman mutakhir di kalangan umat Islam.